Thawaf
Adab memasuki Masjidil Haram, etika thawaf, tujuh putaran, dan bacaan di tiap tahapannya.
Tahap 3 dari 10 · Umrah & haji
Unduh PDF bab iniSebelum memasuki Masjidil Haram
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
- Tidak ada Talbiah lagi setelah memasuki batas tanah Haram.
- Berwudhu (jika batal).
Memasuki Masjidil Haram
- Mendahulukan kaki kanan dan melafazhkan doa:

“Dengan menyebut Asma Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Ya Allah bukalah pintu rahmat‐Mu untukku.”
(HR. Muslim no. 713, dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 88)
- Melakukan Thawaf (Tidak ada shalat Tahiyatul Masjid apabila hendak melakukan Umrah / Thawaf Qudum, namun untuk seterusnya disunnahkan untuk melakukan shalat dua Rakaat setiap kali memasuki Masjidil Haram).
Ketika melihat ka’bah maka hendaknya berdoa dengan doa yang dilakukan oleh Shahabat Umar Radhiallahu’anhu yang lafazhnya :

“Ya Allah, Engkau adalah Penyelamat (hamba‐hamba‐Mu dari Kebinasaan), dari Engkau pula keselamatan diharapkan, maka kekalkanlah kami –wahai Rabb kami‐ dalam keselamatan.”
(HR. Al‐Baihaqi V/72, sanadnya hasan. Lihat Manaasikul Hajji wal umroh oleh Syaikh al‐ Albani rahimahullah).
Sebelum memulai Thawaf
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
- Dalam keadaan suci / berwudhu (apabila batal, dianjurkan untuk berwudhu menggunakan air zam zam yang posisinya berada di sisi luar lingkaran thawaf.
- Untuk Ikhwat, melakukan idhtiba yaitu mengganti posisi kain ihram yang dipakai sehingga bagian pundak pada tangan kanannya dalam keadaan terbuka (terlihat). (hanya khusus thawaf qudum saja).

(Lihat HR. Abu Dawud no. 1884, Shahih).

- Prosesi Thawaf terdiri dari tujuh putaran yang diawali dari Hajar Aswad dan diakhiri di Hajar Aswad yang dilanjutkan dengan shalat sunnah Maqam Ibrahim dan meminum air zam zam.
- Mengikuti Etika Thawaf
Etika Thawaf
- Jangan mendesak, mendorong, atau menyakiti sesama jama’ah
(HR. Al‐Bukhori no. 1597).
- Thawaf mengelilingi Ka’bah dan menjadikan Ka’bah berada di sebelah kiri sisi badan kita
(Lihat HR. Muslim no. 893 (2).
- Untuk Ikhwan disunnahkan untuk berlari-lari kecil antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani pada tiga putaran pertama / Raml
(Lihat HR. Muslim no. 921 (2), Abu Dawud no. 1885 Dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma).
- Raml dan Idhtiba’ hanya dilakukan pada thawaf qudhum saja tidak pada thawaf ifadzhoh
(HR. Abu Dawud no. 2001 dan Ibnu Majah no. 3060, Shahih lihat Shohih Abi Dawud al‐Umm no. 1746).
- Disunnahkan untuk mengusap Rukun Yamani dengan tangan kanan tanpa membaca do’a / dzikir tertentu pada setiap putaran
(apabila hal tersebut memungkinkan).
- Disunnahkan untuk melakukan Iltizam / menempelkan bagian tubuh pada Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah) seraya berdoa (apabila hal tersebut memungkinkan) karena tempat ini merupakan tempat yang makbul.
(HR Ibnu Majah no. 2962, disebutkan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits Shohihah no. 2138)
- Tidak ada bacaan, wirid, atau dzikir tertentu ketika thawaf, akan tetapi anda dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir mengingat Allah.
Pada saat Thawaf
Berikut adalah ilustrasi yang mengambarkan lingkungan di sekitar Ka’bah.

- Putaran Pertama
Mengusap Hajar Aswad dengan tangan kanan, lalu menciumnya
(HR. Muslim no. 1268 [246]).
Hal ini dilakukan pada setiap putaran apabila memungkinkan,
seraya mengucapkan

Atau

(HR. Al‐Bukhori no. 1613 & Al‐Baihaqy dalam as‐Sunan al‐Kubro no. 9250 dan juga Ahmad II/14 no. 4628, tercantum pula dalam Hajjatun Nabiy oleh Syaikh Al‐Albani hal. 57).
Jika tidak mungkin menciumnya, maka
- Cukup mengusapnya dengan tangan kanan, lalu mencium tangan tersebut sambil mengucapkan bacaan dzikir di atas.
- Jika tetap tidak mungkin mengusapnya dengan tangan, maka cukup untuk memberi isyarat kepadanya dengan tangan kanan sambil mengucapkan bacaan dzikir di atas tanpa perlu mencium tangan tersebut.
Setelah itu dilanjutkan dengan membaca dzikir

Atau

Atau

- Putaran pertama
Untuk Ikhwan disunnahkan untuk melakukan Raml / berlari-lari kecil (jika memungkinkan). Raml / berlari kecil berhenti saat posisi sejajar dengan rukun Yamani. Dari Rukun Yamani hingga Hajar Aswad bacaan dzikir
diganti menjadi bacaan do’a

“Wahai Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”
(HR. Abu Dawud no. 1892, Ahmad III/411. Hadits ini hasan, lihat Shahih Abi Dawud I/354.)
Setelah sampai pada Hajar Aswad, kembali mengucapkan takbir dan dilanjutkan dengan bacaan dzikir yang telah disebutkan sebelumnya.
- Putaran Kedua dan Ketiga
Lakukan sama seperti yang dilakukan pada putaran pertama termasuk melakukan Raml / Berlari-lari kecil.
- Putaran Keempat hingga Ketujuh
Lakukan hal yang sama seperti putaran-putaran sebelumnya, hanya saja pada putaran keempat Ikhwan tidak lagi melakukan Raml melainkan jalan seperti biasa.
Pada putaran keenam atau sebelum selesai / setelah selesai thawaf dianjurkan untuk melakukan Iltizam apabila memungkinkan, bila tidak hal ini dapat dilakukan pada thawaf sunnah.
Catatan tambahan yang perlu diketahui
pada saat sedang thawaf
- Jika wudhu anda batal maka segeralah berwudhu lalu ulangi putaran thawaf Anda, tanpa harus mengulangi dari putaran pertama. Misalnya wudhu Anda batal pada putaran keempat, maka setelah berwudhu anda hanya mengulangi putaran yang keempat lalu lanjutkan thawaf hingga selesai.
(Lihat Nubdzatut Tahqiiq hal.39).
- Jika anda sedang thawaf lalu iqomat dikumandangkan, maka shalatlah bersama imam Masjidil Haram, sesudah salam maka lanjutkan thawaf dari tempat shalat Anda.
(Lihat Shohih al‐Bukhori Bab Idza Waqafa fit Thawaf (Bab apabila berhenti ketika thowaf) Dibawah hadits 1622).
- Jika anda ragu terhadap jumlah putaran thawaf yang telah dikerjakan, apakah tiga putaran atau empat, maka ambilah bilangan yang terkecil, yaitu tiga, lalu lanjutkan hingga selesai.
(lihat Fiqhus Sunnah oleh Sayyid Sabiq II/227).
Setelah Thawaf
Pada akhir thawaf (akhir putaran ketujuh) ketika anda telah kembali di Hajar Aswad, Jama’ah tidak lagi mengusap Hajar Aswad dan tidak pula mengangkat tangan memberi isyarat kepadanya, cukup dengan menghadapnya. Dan prosesi thawaf selesai.
Selanjutnya, untuk ikhwan diharapkan untuk menutup kembali pundak dengan kain Ihram seperti halnya sebelum memulai prosesi Umrah dan segera menuju Maqam Ibrahim seraya membaca:

(Lihat HR. Abu Dawud no. 1905, lihat juga Shahih Ibnu Majah no. 2494, Shahih Abi Dawud no. 1676.)
Sesampainya di Maqam Ibrahim, Lakukan shalat sunnah 2 raka’at tepat di belakang Maqam Ibrahim (apabila memungkinkan, namun jika tempat tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang melakukan thawaf ataupun shalat, maka shalatlah di mana saja jama’ah mendapat tempat di Masjidil Haram).

Shalat dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim, Raka’at pertama
setelah surat al‐Fatihah

Lalu membaca surat al‐Kafirun.

kemudian pada raka’at kedua setelah surat al‐Fatihah membaca surat al‐Ikhlas.

(HR. Abu Dawud no. 1905, lihat juga Shahih Ibnu Majah no. 2494, Shahih Abi Dawud no. 1676.)
Setelah shalat dua raka’at, lalu langsung menuju ke tempat yang telah disediakan air zam‐zam, minum air zam‐zam dengan doa apa saja, boleh melakukan doa seperti yang dicontohkan Sahabat Abdullah bin Abbas Radhiallahu’anhuma.

(HR. Ad‐Daruquthni no. 2701 dan al‐Hakim dalam kitabnya al‐Mustadrak 1/473.)
Setelah selesai meminum air zam zam, prosesi thawaf telah selesai dan dilanjutkan dengan sa’i.
