Hari Nahar - 10 Dzulhijjah
Melontar Jumrah Aqabah, hadyu, tahallul, dan thawaf ifadhah.
Tahap 8 dari 10 · Haji
Unduh PDF bab iniMenjalankan Ibadah Shalat Fardhu
Setelah terbit fajar, laksanakan shalat subuh secara berjama’ah dan diawal waktunya.
Wukuf di Muzdalifah
Setelah shalat dilanjutkan untuk menuju Masy’aril Haram, yaitu bukit yang berada di Muzdalifah (apabila memungkinkan apabila tidak seluruh Muzdalifah merupakan Mauqiff / Tempat berhenti yang disyari’atkan). (HR. Ahmad IV/82. Dishahihkan oleh Syaikh Alalbani dalam Shahih Jami’ush Shaghir no. 4537. Lihat pula Hajatun Nabiy oleh Syaikh al‐Albani hal. 78).
Di Mauqiff hendaknya jama’ah menghadap kiblat dan memanjatkan pujian kepada Allah, bertakbir, dan berdo’a kepada‐Nya. (Disebut Wukuf di Muzdalifah dan hukumnya adalah wajib)
(HR Muslim no. 1218 (147)).
Menuju Mina
Setelah matahari terbit, jama’ah berangkat menuju Mina disertai dengan mengumandangkan talbiah, teruslah bertalbiah dengan mengeraskan suara hingga sampai melempar jamarat Aqabah.
Lempar Jamarat Aqabah
Melempar Jumrah Aqabah ini waktunya dari sesudah matahari terbit / pada saat dhuha (HR. An‐Nasa‐i no. 3065, dihasankan oleh Syaikh al‐Albani dalam Hajatun Nabi hal. 80) dan dibolehkan bagi yang mempunyai hambatan/‐ keterlambatan/udzur (yang tidak mampu melempar pada waktu dhuha) untuk melemparnya pada malam hari.
Melempar 7 buah kerikil ke pilar Aqbah sambil membaca takbir di setiap lemparan (dan hal ini berlaku bagi seluruh jama’ah baik Ikhwan maupun akhwat).

Atau

Menyembelih Hewan Hadyu
Disunnahkan untuk menyembelih dengan tangan sendiri bila dirasa mudah, namun kalau tidak mampu boleh diwakilkan kepada orang lain atau yayasan yang amanah (dalam jangka waktu selama 3 hari).
Ketika menyembelih mengucapkan

“(Dengan Nama Allah dan Allah Mahabesar). Ya Allah ini dari‐Mu dan milik‐Mu. (Ya Allah terimalah (amalan ini) dariku).”
(HR. Abu Dawud no. 2810 dan yang lainnya dari hadits Jabir bin Abdillah dan terdapat syahid dari hadits Abu Sa’id al‐Khudry. Dishahihkan oleh Syaikh al‐Albani dalam Irwa‐ul Ghalil no. 1118)
Apabila memungkinkan, jama’ah dianjurkan untuk memakan dari daging sembelihannya.
Barangsiapa yang dia tidak mampu mendapatkan hewan sembelihan maka baginya adalah puasa pada hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) dan puasa sebanyak 7 hari setelah pulang ke kampung halaman (QS: Al-Baqarah ayat 196).
Tahallul Awwal
Mencukur (gundul) rambut kepala atau memendekkannya, tetapi mencukur (gundul) adalah lebih utama. Ini berlaku bagi laki‐laki. Sedangkan untuk perempuan adalah cukup mencukur sedikit bagian ujung rambutnya saja seperti yang telah dijelaskan. (Lihat Silsilah Ahaadits ash‐Shahiihah no. 605 dan Shahih Sunan Abi Dawud no. 1732.).
Mencukur rambut dimulai dari kepala sisi sebelah kanan berdasarkan hadits Anas. (HR. Muslim dan yang lainnya, lihat Irwa‐ul Ghaliil no. 1085).
Haram memangkas habis jenggot atau memotongnya. Berdasarkan Hadits Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam:

“Selisihilah Kaum Musyrikin, peliharalah jenggot, dan tipiskanlah kumis kalian.”
(HR. Al‐Bukhori no. 5892 dan Muslim no. 259 (54)).
Setelah menggunduli kepala maka itu telah masuk pada tahallul yang pertama maka boleh baginya segala sesuatu yang diharamkan baginya ketika sedang berihram kecuali jima’ dengan isteri (Lihat Musnad Imam Ahmad 1/234, Ibnu Majah no. 3041, Shohih. Lihat Silsilah Ahaadits ash‐Shahiihah no. 239.).
Thawaf Ifadhah
Setelah tahallul pertama, jama’ah berangkat menuju Makkah untuk melakukan Thawaf Ifadhah di mana Thawaf Ifadhah merupakan bagian dari Rukun Haji. Prosesi Thawaf Ifadhah sama dengan Thawaf Qudum yang dilakukan sebelum prosesi haji, seperti Thawaf, Shalat Maqam Ibrahim, Meminum Zam Zam, Sa’I, dan diakhiri dengan Tahallul Akhir.
Barangsiapa yang telah melepaskan ihram dan mengganti baju pada saat mengerjakan thawaf ifadhah, selesainya Thawaf Ifadhah / Tahallul akhir harus dilakukan sebelum Maghrib. Jika tidak maka jama’ah harus tetap dalam keadaan ihramnya sebagaimana keadaannya ketika sebelum melempar jamarat, dan yang demikian berlaku sampai thawaf ifadhah dikerjakan.
(Lihat shahih di Shahih Sunan Abi Dawud no.1999)
Setelah selesai keseluruhan proses maka jama’ah dapat kembali ke Mina untuk menjalani hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah).
Menuju Tenda Mina
Jama’ah diharapkan untuk tidak lupa membaca dzikir pagi dan petang, memperbanyak doa dan tetap melakukan Ibadah Shalat Fardhu secara berjama’ah selama berada di tenda Mina.
Berikut adalah rangkuman ilustrasi keseluruhan proses haji

