Hari Arafah - 9 Dzulhijjah
Wukuf di Arafah, khutbah, doa hingga terbenam matahari, lalu mabit di Muzdalifah.
Tahap 7 dari 10 · Haji
Unduh PDF bab iniMenuju Arafah
Menuju ke Arafah setelah matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah dengan memperbanyak talbiah dan bertakbir. Bagi jama’ah diharapkan untuk membaca dzikir pagi.
Tidak ada sunnahnya bagi orang yang menunaikan haji berpuasa pada hari Arafah. (Lihat Fathul Bari Syarah Shohih Al‐Bukhori 4/595).
Khutbah Arafah
Jama’ah disunnahkan untuk singgah di Masjid Namirah untuk mendengarkan khutbah (jika memungkinkan, apabila terhalang karena sangat padat orang maka tidak mengapa untuk tidak singgah di tempat tersebut dan jama’ah boleh mendengarkan khutbah di tendanya masing-masing).
Menjalankan Ibadah Shalat Fardhu
Setelah itu menjalankan Shalat Zhuhur dan Ashar di Arafah dengan cara Jamak dan Qashar pada waktu Zhuhur (jamak taqdim) dengan satu adzan dan dua iqamah. Tidak ada shalat sunnah apapun diantara Shalat Zhuhur dan Ashar yang dijamak itu.
Berdzikir dan Berdoa
Memperbanyak dzikir dan do’a (dilakukan masing-masing) pada saat wukuf di Arafah (pastikan anda benar‐benar di Arafah) dengan menghadap kiblat hingga matahari terbenam sambil mengangkat tangan. Hari Arafah memiliki keutamaan di mana pada hari tersebut Allah membebaskan hamba-nya dari siksa neraka dan akan mengabuli apa yang hamba-nya kehendaki (HR. Muslim no. 1348 (436)).
Memperbanyak bacaan dzikir utama yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam dan nabi lainnya di hari Arafah:

“Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagiNya kerajaan dan segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu’.”
(HR. Malik dalam al‐Muwaththo’ no. 500 dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh al‐Albani dalam Silsilah Ahaadits ash‐Shahiihah no. 1053).
Bermalam di Muzdalifah
Setelah matahari terbenam, para jama’ah bersiap untuk menuju Muzdalifah dan jangan lupa untuk membaca dzikir sorenya didalam perjalanan.
Jika telah sampai Muzdalifah kerjakanlah shalat Maghrib dan Isya’ secara jama’ dan diqashar dengan satu adzan dan dua iqamat (HR. Muslim no. 1218 (147)).
Diharamkan mengakhirkan shalat Isya’ hingga setelah lewat pertengahan malam, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam:

“Waktu Isya’ adalah sampai pertengahan malam.”
(HR. Muslim no. 612 (172) dari Abdullah bin Amr Radhiallahu’Anhu).
Apabila takut akan lewatnya waktu dikarenakan padatnya jalan, hendaknya jama’ah shalat Maghrib dan Isya’ di tempat mana saja, meskipun masih di Arafah.
Bermalam di Muzdalifah hingga terbit fajar/shalat Shubuh. Jama’ah dianjurkan untuk beristirahat sebagai persiapan menjalankan ritual pada hari Nahar (10 Dzulhijjah).
Jama’ah diperbolehkan untuk mengumpulkan batu kerikil sebanyak 70 buah untuk persiapan melempar jamarat Ula, Wusta, dan Aqabah selama hari Tasyriq. Di mana Besarnya kerikil adalah al‐Khodzfu (batu kecil yang dipergunakan untuk melempar dengan dua jari telunjuk) seperti kacang merah atau isi buah zaitun, tidak perlu mengambil batu yang ukurannya besar. (Lihat Shohih Muslim no. 1282 (268)).
