Sa'i
Perjalanan tujuh kali antara Shafa dan Marwah beserta bacaan dan adabnya.
Tahap 4 dari 10 · Umrah & haji
Unduh PDF bab iniSebelum Sa’i
Hal-hal yang perlu diperhatikan
- Berbeda dengan thawaf, prosesi sa’I tidak diisyaratkan untuk bersuci atau dalam keadaan berwudhu.
(lihat Fiqhus Sunnah II/224).
- Sama halnya dengan thawaf, sa’i dilakukan tujuh kali perjalanan dengan diawali dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah, perjalanan Shafa ke Marwah dianggap sebagai satu perjalanan.
- Diantara bukit Shafa dan Marwah, terdapat dua tanda hijau di mana pada saat melintasi antara dua tanda hijau tersebut disunnahkan untuk berlari kecil.
(HR Ibn Abi Syaibah IV/68, 69 dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar, dengan dua sanadnya yang shahih dari Al‐Musayyib bin Raafi’ al‐Kahili dan Urwah bin Zubair.).

Pada saat mendekati bukit Shafa, maka mengucapkan lafazh surat
Al-Baqarah ayat 158

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber‐umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”
Atau

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah.”
Kemudian mengucapkan do’a

“Aku memulai sa’i dengan apa yang didahulukan oleh Allah.”
(HR. Muslim (no. 1218 (147))
Setelah di bukit Shafa
- Setelah berada di atas bukit usahakan memposisikan tubuh menghadap Ka’bah (melihat Ka’bah jika memungkinkan), lalu membaca lafazh:

“Allah Mahabesar 3x, Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi‐Nya. Bagi‐Nya kerajaan dan bagi‐Nya segala puji. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Yang Maha Esa, Yang melaksanakan janji‐Nya, membela hamba‐Nya (Rasulullah) dan sendirian mengalahkan golongan musuh.”
- Lalu dilanjutkan dengan berdoa bebas di mana dianjurkan untuk berdoa untuk diri kita, kemudian orang tua, kemudian isteri dan anak, kemudian orang lain. Diutamakan juga membaca doa dengan lafazh dari Al‐Qur‐an dan as‐Sunnah, jika tidak mampu maka boleh berdoa dengan bahasa Indonesia. Adapun bacaan doanya seperti:

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung pada‐Mu dari sifat pengecut, dari dikembalikannya aku kepada umur yang paling lemah (pikun) dan fitnah dunia dan dari siksa kubur.”
(HR. Bukhori no. 2822).
- Membaca lagi point 1.
- Kemudian dilanjutkan dengan berdoa seperti pada point 2.
- Kemudian membaca lagi point 1.
- Dan diakhiri dengan berdoa seperti pada point 2.
Menuju bukit Marwah
Diantara bukit Shafa dan Marwah terdapat dua tanda hijau. Sebelum dan sesudah tanda hijau dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir, seperti:

“Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi‐Nya. Bagi‐Nya kerajaan dan pujian. Dia‐lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Atau

Setelah masuk diantara dua tanda hijau, apabila memungkinkan lakukanlah lari-lari kecil seraya melafazhkan:

“Ya Rabb Ampunilah aku Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mulia.”
(HR Ibn Abi Syaibah IV/68, 69 dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar, dengan dua sanadnya yang shahih dari Al‐Musayyib bin Raafi’ al‐Kahili dan Urwah bin Zubair.)
Setelah di bukit Marwah
Lakukan prosesi seperti halnya di bukit Shafa.
Menuju bukit Shafa
Sama halnya perjalanan menuju ke bukit Marwah, menuju bukit Shafa juga akan melintasi dua tanda hijau. Sebelum dan sesudah tanda hijau dianjurkan memperbanyak dzikir seperti halnya perjalanan menuju bukit Marwah.
Dan apabila melintasi dua tanda hijau, berlari-lari kecil dan membaca do’a layaknya perjalanan menuju bukit Marwah.
Setelah Sa’i
Setelah melakukan perjalanan sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah, destinasi terakhir atau ketujuh akan berada pada bukit Marwah di mana tidak ada bacaan seperti prosesi sebelumnya melainkan langsung menuju pintu keluar Masjidil Haram untuk bertahalul.
Pada saat keluar masjid, tidak lupa untuk melafazhkan

